Kritik dan Saran silahkan kirim pesan ke" bayz.pabayo@gmail.com "

Penatalaksanaan Sinusitis pada Anak



DEFINISI
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal  dgn penumpukan sekret / nanah dalam rongga sinus

PATOFISIOLOGI
Untuk memahami penyakit sinus, harus mempunyai sejumlah pengetahuan konsep patofisiologi dasar. Patofisiologi dasar penyakit sinus ini suatu gangguan mukosa di dan sekitar ostim di regiu meatus medius. Baik fungsi silia terganggu atau lapisan lender yang tidak berfungsi normal dan faktor-faktor pertahanan lokal hospes berkurang. Hal-hal yang terjadi di hidung biasaanya terjadi pula di sinus-sinus. Sehingga bakteri di hidung dapat masuk melalui ostium dan berkembang biak di dalam sinus-sinus.


FAKTOR-FAKTOR PREDISPOSISI ATAU ETIOLOGI
Untuk memahami bagaimana terjadinya sinusitis bakterialis, harus diketahui bahwa biasanya ada faktor-faktor predisposisi. Sewaktu mengobati penderita sinusitis, coba mencari adanya faktor-faktor predisposisi, lokal, regional, atau sistemik. Setiap infeksi traktus respiratorius atas (rhinitis virus atau ‘common cold’) biasanya mengenal mukosa sinus, karena epitel sinus merupakan epitalium kuboid bertingkat bersilia yang mirip dengan epithelium kolumner bertingkat bersilia pada hidung.

KLASIFIKASI
Klasifikasi sinusitis berdasarkan patologi berguna dalam penatalaksanaan pasien. Disamping menamakan sinus yang terkena, beberapa konsep seperti lamanya infeksi sinus, harus menjadi bagian klasifikasi.

SINUSITIS SUPURATIVA AKUTA
Secara kasar sinusitis supurativa akuta merupakan suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlangsung dari satu hari sampai 3 minggu.

SINUSITIS SUPURATIVA SUBAKUTA
Sinusitis supurativa subakuta merupakan infeksi sinus yang berlangsung dari 3 minggu sampai sekitar 3 bulan. Perubahan epitel di dalam sinus bisaanya reversible pada fase akut dan subakut. Biasanya perubahan tak reversibel timbul setelah 3 bulan sinusitis subakuta, yang berlanjut ke fase berikutnya atau kronika.

SINUSITIS SUPURATIVA KRONIKA
Fase kronika dimulai sekitar 3 bulan dan berlangsung sampai waktu yang tidak terbatas. Jadi bila infeksi sinus menetap lebih dari 3 bulan, maka keadaan tersebut dikenal sinusitis supurativa kronika. Pada umumnya, sinusitis kronika merupakan sinusitis akuta yang tidak diterapi secara adekuat atau tidak terapi dan harus diterapi dengan pembedahan karena mukosa yang sakit tak reversibel harus dibuang serta ventilasi dan drainase sinus harus dibuat untuk resolusi.
Istilah yang digunakan untuk melukiskan diagnosis sinusitis akibat infeksi bakteri dengan contoh “sinusitis maksilaris dekstra supurativa akuta”. Penting mengindentifikasi (a) sinus yang terkena, (b) sisi yang terkena dan (c) berapa lama proses tersebut telah berlangsung.

GEJALA-GEJALA
Gejala-gejala sinusitis non-virus berhubungan dengan lokasi sinus yang terkena dan apakah penderita tersebut menderita sinusitis akuta, subakuta atau kronika. Gejala tersering terdapat meliputi nyeri, obstruksi hidung, sekret hidung, dan gejala-gejala sistemik yang meliputi reaksi demam dan fenomena konstitusional lain seperti malaise dan letargi.

TABEL 14-1, SINUSITIS SUPURATIVA
GEJALA               AKUT                   KRONIK
Nyeri                          +4                              -
Obstruksi                   +4                             +2
Sekret hidung            +4                             +2
Gejala-gejala             +4                                -

NYERI
Pada sinusitis akuta, bisaanya pasien menderita nyeri di sinus yang terinfeksi; bila ia sinusitis frontalis, nyeri terasa frontal, bila ia sinusitis etmoidalis, timbul nyeri ethmoid, yang mencakup nyeri di bagian medial hidung, atau nyeri retrorbita; bila si sinusitis sfenoidalis biasanya pasien menderita nyeri kepala di verteks; dan bila terjadi sinusitis maksilaris, pasien akan menderita nyeri di pipi atau wajah.

SEKRET HIDUNG
Pada sinusitis supurativa akuta, bisaanya pasien menderita sekret hidung mukopurulen kuning sampai hijau, yang terjadi unilateral atau bilateral. Dengan riwayat infeksi fraktus respiratorius atas sebelumnya (suatu faktor predisposisi), bisaanya akan mengenai kedua sisi dan sering ditemukan gambaran sistemik, termasuk pemeriksaan laboratorium adanya peningkatan LED, peningkatan hitung leukosit (leukositoris), disertai demam. Pada sinusitis kronika, bisaanya pasien menderita sekret mukopurulen dan gejala-gejala obstruksi hidung yang ringan tetapi nyeri dan gejala-gejala sistemik jelas tak ditemukan. Biasanya pasien tidak demam dan tidak mengeluh nyeri kepala atau nyeri wajah.

GEJALA-GEJALA LAIN
Ingat bahwa sinusitis akuta dapat menunggangi sinus yang terinfeksi kronika! Pada rinosinusitis maksilaris, pasien dapat pula mengeluh nyeri gigi, obstruksi saluran pernapasan hidung dan sekret mukopurulen. Tidak jarang radang sinus dimulai di satu sinus dank arena ostium sinus maksilaris, etmoidalis dan frontalis mengalir ke dalam meatus medius, maka radang menyebar ke sinus-sinus yang lain. Keterlibatan seluruh sinus dinamai pansinusitis. Sehingga pasien akan menderita gejala yang berhubungan dengan radang seluruh sinus.
Edema periorbita dapat pula timbul bila melibatkan sinus frontalis dan etmoidalis karena letaknya dekat dengan mata. Harus pula diperhatikan bahwa sinusitis etmoidalis dan sfenoidalis dapat menyebabkan nyeri oksipital, verteks atau parietal, nyeri di pangkal hidung, nyeri retro-orbita atau nyeri yang menjalar ke bawah menuju leher.
Pada eksaserbasi sinusitis supurativa akuta (rinosinusitis rekuren), harus dicari faktor-faktor predisposisi dan dibuat kultur lengkap (bakteri umum, basih tahan asam, jamur dan anaerob). Pada sinusitis supurativa kronika, keluhannya mungkin hanya obstruksi slauran pernapasan hidung dan sekret postnasal.

DIAGNOSA
Untuk dokter puskesmas, diagnosis sinusitis dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta didukung oleh gambaran rontgen. Rontgenpun harus dibuat pada semua kasus sinusitis supurativa akuta untuk menentukan luas bagian yang terkena, terutama bila nyeri dan gambaran sistemik menonjol, atau bila pasien sakit berat atau gagal membasik dalam satu minggun terapi antibiotika. Dapat digunakan transiluminasi sinus, walaupun tindakan ini tidak setepat rontgenografi untuk mendiagnosis abnormalitas di sinus. Telah digunakan sinuskopi sebagai teknik yang lebih maju dan canggih serta mungkin hanya boleh dilakukan oleh ahli rinologi.

KULTUR
Kultur yang dibuat dari sinus lebih tepat dibandingkan kultur yang diambil dari hidung, tetapi saat bahan tersebut hanya dapat diperoleh selama dilakukan lavase sinus. Sehingga untuk praktisnya, kultur harus diambil dari daerah meatus medius bila melibatkan sinus maksilaris, ethmoidalis atau frontalis. Ketahuilah bahwa ini hanya kultur intranasal dan mungkin tidak selalu mencerminkan apa yang terjadi di dalam sinus. Kultur harus dilakukan secara rutin untuk bakteri umum, basil tahan asam, jamur dan anaerob. Kultur harus dilakukan bila pasien sakit berat (gambaran sistemik dan/atau bila mengalami nyeri hebat) atau bila pasien tidak respon dengan penatalaksanaan konvensional (termasuk antibiotika untuk sinusitis supurativa).

SINUSITIS PEDIATRI
Sinusitis pediatric berbeda dari sinusitis orang dewasa dalam sejumlah hal. Sinus-sinus etmoidalis dan maksilaris mungkin lebih sering terlibat pada anak-anak daripada orang dewasa. Sinusitis etmoidalis pada anak-anak lebih sering melibatkan mata dibandingkan orang dewasa karena hubungan erat isi orbita dengan lamina dinding lateral labirintus etmoidalis yang tipis.
Sinus-sinus terbentuk oleh evaginasi membrane mukosa hidung, dan pelapis sinus merupakan epithelium pernapasan. Ostium masing-masing sinus terletak di tempat asal evaginasi dari ruangan hidung. Sehingga karena epithelium pernapasan ini mempunyai kontinuitas antara sinus-sinus dan hidung, maka segala hal yang terjadi di hidung (seperti infeksi traktus respiratorius atas) juga terjadi di sinus-sinus. Ortium yang lebar relative lazim ditemukan pada anak-anak, tetapi ia merupakan pedang bermata dua, karena ostium yang besar memungkinkan reaksi radang di hidung yang juga terjadi di dalam sinus tetapi ia mempunyai keuntungan karena memungkinkan evakuasi sekresi sinus yang terinfeksi.
Infeksi traktus respiratorius atas apapun pada anak-anak dapat menimbulkan edema sekunder terhadap reaksi radang. Pembengkakan tersebut dapat menyumbat sinus tertentu dan menyebabkan infeksi bakteri sekunder yang dapat menyebar dengan perluasan langsung ke struktur sekitarnya serta menimbulkan komplikasi yang gawat, termasuk kematian.
Sebab sinusitis lainnya pada anak-anak meliputi adenoid yang besar yang menyumbar dan atresia koana (unilateral). Deformitas septum dapat pula menjadi faktor predisposisi, seperti juga polip nasalis, benda asing, tumor, rhinitis alergika, gangguan vasomotor, kelainan sistemik (termasuk fibrosis kistik), gangguan imunologi dan abnormalitas hematology (termasuk leukemia). Berenang atau menyelam di air yang terpolusi atau fraktura tulang-tulang wajah dapat pula menyebabkan sinusitis.

TANDA-TANDA DAN GEJALA-GEJALA SINUSITIS PEDIATRI
Sinus-sinus frontalis atau sfenoidalis tidak lazim terinfeksi selama masa kanak-kanak; kompleks maksilaris dan etmoidalis lebih sering terlibat pada anak-anak. Karena sering anak-anak sakit menceritakan gejalanya, tidak jarang dianggap bahwa pasien tersebut menderita ‘common cold’ persisten dan bukan sinusitis. Pada rinosinusitis, keluhannya mungkin rinore, batuk dan sekret hidung purulenta. Nyeri sinus dan demam tidak lazim terjadi pada anak-anak. Dengan berlanjutnya penyakit, gambaran regional dan sistemik mungkin menjadi lebih jelas; sebagai contoh, dapat pula timbul faringitis, limfadenitis, otitis media, demam dan artralgia. Anak-anak yang lebih besar dapat mengeluh nyeri di atas sinus yang terlibat.
Pada pasien yang berusia lebih dari 5 tahun, sinus frontalis dapat terlibat. Mungkin ada nyeri tekan pada penekanan di atas sinus pada supraorbita. Pasien dapat pula menggambarkan peningkatan nyeri atau nyeri kepada atau rasa penuh yang dieksaserbasi oleh batuk atau membuang ingus.
Pada sinusitis sfenoidalis, nyeri kepala oksipital, nyeri postaurikular atau nyeri temporal mungkin merupakan gejala yang mula-mula membawa sang anak unuk pemeriksaan dokter. Dengan terlibatnya sinus kavernosus dan saraf-saraf otak ketiga (okulomotorius), keempat (troklearis) dan keenam (abdusens) serta adanya gangguan visual, maka pemeriksa harus mencurigai terjadinya penyakit sfenoid sehingga gangguan oftalmologi mungkin merupakan tanda awal sinusitis etmoidalis dan/atau sfenoidalis, atau bahkan sinusitis frontalis pada anak-anak. Diagnosis benar-benar dikonfirmasi setelah melakukan anamnesis, pemeriksaan fisis dan rontgenogram. Transluminasi tidak dapat diandalkan pada masa kanak-kanak. Sehingga foto rontgen merupakan pembantu yang sangat penting dalam menunjukkan diagnosis seperti juga penatalaksanaan semua kasus sinusitis, tanpa memperhatikan usia pasien.

PENATALAKSANAAN PADA ANAK-ANAK
Terapi anak-anak mirip dengan orang dewasa, yaitu harus dibicarakan secara medis atau bedah. Karena organisma penyebab pada anak-anak hampir sama dengan orang dewasa (walaupun tidak ada penelitian bakteri yang benar-benar baik pada sejumlah besar anak-anak), paling sering ditemukan H. influenzae, pneumokokus, stafilokokus, dan streptokokus. Penatalaksanaan medis harus mencakup istirahat baring, analgesic, dekongestan dan antibiotika dalam konsentrasi tinggi. Jelas ampisilin menjadi obat terpilih dan dosisinya harus didasarkan atas milligram per kilogram berat badan. Bisaanya tetrasiklin tidak diindikasikan untuk sinusitis.
Tindakan pembedahan tidak dianjurkan pada fase akut, kecuali pada kasus infeksi sinus frontalis yang gagal berespon terhadap penatalaksanaan konservatif dan disertai dengan nyeri persisten dan/atau ancaman komplikasi intrakranial atau oftalmologi. Sebelum sinus manapun dibilas atau diirigasi pada fase subakut atau kronis, sangat penting membuat foto roentgen untuk menentukan ukuran, bentuk dan hubungan sinus ke struktur anatomi sekitanya. Kadang-kadang pada anak dengan sinusitis kronika. Mungkin diindikasikan lavase antral maksilaris atau operasi jendela antral maksilaris. Operasi Caldwell-Luc benar-benat tidak diindikasikan karena kemungkinan menganggu gigi geligi bicuspid maksilaris. Polip, adenoid, tumor, atresia koana, mukovisidosis atau abnormalitas lain harus disingkirkan. Penatalaksanaan alergi juga merupakan bagian untuk mengontrol pasien-pasien pediatric dengan sinusitis kronika.

KOMPLIKASI
Komplikasi dapat timbul pada penderita sinusitis akuta atau kronika. Untunglah angka komplikasi bermaknanya rendah walaupun gambaran tepatnya belum tersedia. Biasanya komplikasinya lokal dan berhubungan dengan sinus yang terlibat atau lebih jauh dari sinus tersebut tetapi bisaanya masih terletak regional.
Karena pada hakekatnya mata merupakan struktur yang dikelilingi pada 3 sisi oleh sinus-sinus (frontalis di atas, ethmoidalis di medial dan maksilaris di bawah), maka keadaan yang melibatkan sinus-sinus ini dapat meluas untuk melibatkan isi orbita. Baisanya penyakit ethmoid akut, terutama pada anak-anak dan infeksi sinus frontalis,  terutama pada orang dewasa, menimbulkan gejala pada mata, tetapi hanya karena hubungannya dengan sinus kavernosus tempat lewatnya saraf otak ketiga (okulomotorius), keempat (troklearis) dan keenam (abdusens).
Komplikasi pada kelompok usia pedaitrik sama seperti orang dewasa, kecuali bahwa etmoidalis akuta tampaknya lebih sering menyebar untuk melibatkan isi orbita, yang dimulai dengan edema dan pembengkakan kelompok mata. Selulitis orbitalis dapat menyebabkan abses orbita  dan kebutaan. Bisaanya pasien-pasien ini tampak sakit dan sepsis, serta dianjurkan pemberian antibiotika intravena dan dekongestan oral. Juga dianjurkan perumahsakitan, serta harus melakukan konsultasi sedini mungkin ke bagian neurology dan oftalmologi.
Sebagai ringkasan, sinus maksilaris dan etmoidalis merupakan sinus yang penting pada neonatus dan masa kanak-kanak. Sinus sfenoidalis dan frontalis jarang terlibat sampai usia 10 tahun. Keluhan awal yang lazim meliputi batuk dan sekret hidung purulenta. Penatalaksanaan medis dengan antibiotika menjadi kunci terapi pada fase akut. Sinusitis kronika tidak lazim terjadi pada anak-anak bisaanya disertai faktor predisposisi seperti hipertrofi adenoid, penyakit sistemik, alergi, firbosis kistik, abnormalitas septum atau rahang sumbing. Sering sinusitis dan bronchitis timbul bersamaan, yang menunjukkan bahwa reaksi radang dapat mengenal saluran napas atas dan bawah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar